Laman

11.5.10

MEMBANGUN HATI SELUAS TELAGA

Suatu pagi datang seorang pemuda yang dirundung masalah kepada seorang ustad. Langkahnya gontai dan mukanya muram. Kepada ustad berwajah teduh itu ia tumpahkan segala permasalahannya.
Usai menyimak cerita pemuda, ustad mengambil segenggam garam dan menaburkannya ke air putih yang dihidangkan kedalam gelas. Setelah diaduk ia berujar, “Coba minum ini,Katakan bagaimana rasanya?” Walau keheranan, pemuda itu meminumnya. “Puih…..pahit. Pahit sekali!” katanya sambil meludah kesamping.
Sambil tersenyum, ustad itu kemudian mengajaknya ketelaga dipinggir hutan,tak jauh dari tempat tinggalnya. Dari kantongnya, Ustad mengambil segenggam garam dan menaburkan ke telaga, lalu mengaduknya dengan sepotong kayu sampai airnya beriak, “Coba ambil air dari telaga ini,dan minumlah”. Si pemuda mematuhinya, dengan mereguk air setangkup tangannya. “Bagaimana rasanya?” kata ustad. “Segar!” sahut pemuda. “Apakah kamu merasakan garam dalam air itu?” lanjut ustad. ”Tidak”, jawab si pemuda yakin.
Dengan bijak, ustad itu menepuk nepuk punggung si pemuda. “Anak muda, pahitnya kehidupan ini layaknya segenggam garam,tak lebih dan tak kurang. Jumlah dari rasa pahit itu sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Wadah itu adalah hatimu!”
“ Saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya satu yang bisa kamu lakukan : lapangkanlah hatimu menerima semuanya. Maka, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana talaga yang mampu merendam setiap kepahitan, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

MELIBATKAN SANG MAHA

Otak dan akal manusia sangatlah terbatas.
Kemampuannya dan pengetahuannya juga terbatas.
Dan ada yang tidak berbatas, Dialah Allah’ azza wa jalla.

SAUDARA- sangat bias untuk segera meraih sukses, sangat mungkin untuk segera meraih kemenangan, Caranya ? Dengan menjadikan Allah sebagai mitra sejak melangkah diperjalanan.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana caranya menjadikan Dia mitra sukses, mitra kemenangan ? Caranya hidup lurus, sering berdo’a dan memohon kepada-Nya, dan yang tidak kalah penting, persembahkan kesuksesan dan kemenangan kita bukan hanya untuk diri sendiri. Tapi juga untuk orang lain, untuk sesame. Pasti kesuksesan dan kemenangan milik kita.
Harus diakui, selama ini kita enggan menjadikan Dia mitra sukses. Kita hanya mau menjadikan pejabat sebagai mitra kita, padahal pejabat itu milik Allah, sekaligus kekayaannya. Kita selama ini hanya mau menjadikan orang kaya sbagai pemodal satu-satunya. Padahal kekayaannya berada dalam genggaman Allah.
Selama ini kita hanya mau menjadikan kawan yang kuat sebagai pelindung, entah kuat dalam arti fisik atau kuat dalam pengertian majazi; kuat jabatan, kuat kekuasaan, kuat harta. Padahal semua kekuatan hanya milik-Nya.
Walhasil, kita jauh dari kesuksesan sejati, kita jauh dari kemenangan hakiki. Kesuksesan dan kemenangan kita semu. Karena tidak melibatkan-Nya dalam hidup ini.
Duhai diriku, Allah engkau jadikan tidak lebih dari sekedar WC. WC, baru ditengok kalau perut sudah sakit. WC, diperlukan bila ingin buang hajat saja. Begitu juga engkau diperlakukan Allah. Begitu kesusahan mendera, buru-buru engkau cari Allah. Ke mana saja ketika senang ?
Tapi Allah, tetap Allah, dengan kemurahan-Nya, dengan keluasan kebijaksanaan-Nya, Dia tetak menerima manusia yang mau kembali kepada-Nya. Mulia sekarang, sejak kaki sudah mau melangkah, libatkan Allah. Beberapa cara melibatkan Allah dalam gerakan dan nafas kita :
1. Ketika bangun di pagi hari kita lapor kepada-Nya melalui doa. Ketika makan, kita awali dengan doa. Disetiap aktivitas kita libatkan Allah yang salah satu caranya adalah lewat doa.
2. Kita luruskan niat dan luruskan langkah. Ini juga salah satu cara melibatkan Allah, yakni melibatkan-Nya dalam aktivitas keseharian.Dia akan senang membantu pedagang yang jujur, karyawan yang disiplin, rumah tangga yang akur, orang kaya yang baik hati, orang miskin yang tidak sombong (bagaimana mau sombong ya kalau miskin ?), dan seterusnya. Bahasa lainnya adalah menganggap-Nya ada.
3. Kita persembahkan kesuksesan dan kemenangan kita untuk sesama. Manusia adalah perpanjangan tangan Allah di muka bumi dalam menebar kasih dan saying-Nya.


Langkah Sukses
Insya Allah, Allah akan senang melibatkan diri-Nya dalam langkah sukses kita. Bahkan mestinya bukan saja ketika baru melangkah sukses, melainkan juga tetap melibatkan Dia ketika kesuksesan sudah terasa di kehidupan kita.
Supaya apa ? Supaya dijaga semua nikmat, dan supaya berkah kesuksesan yang kita genggam. Seorang kawan bahkan berkata, dia melibatkan Allah, juga disetiap kesulitan yang dihadapi.
Walhasil, memang disetip jengkal kehidupan ini hendaknya kita selalu libatkan Dia. Ada lagi cara satu dua kawan yang agak berbeda. Dia ini selalu kedepankan sedekah (baca:membantu orang) bila dia punya hajat. Misalkan ketika ia ingin bisnis, lazimnya orang setelah sukses menggarap satu dua bisnis, baru ia keluarkan sebagian rezekinya untuk sesame.
Dia berbeda, dia keluarkan terlebih dahulu sebagian rezekinya (baca:modalnya) untuk mereka yang susah, tidak menunggu kalau berhasil. Jika ditanya alasannya, katanya kita memancing ikan aja pakai umpan. Nah, dia ini memancing keberhasilan (baca:menghasilkan uang) pakai uang. Dengan mengeluarkan sedekah didepan, dia yakin, kesuksesan sudah dipesan terlebih dahulu olehnya.
Termasuk ketika ia berhutang. Ia hitung hutangnya,. Katakanlah Rp 30 juta. Maka kawan saya ini mengeluarkan dulu Rp 750 ribu, atau 2,5%-nya di muka untuk membantu orang-orang. Setelah itu denagn penuh keyakinan ia yakin utang Rp 30 juta sudah pasti dijamin Allah. Dan nyatanya memang demikian.
Dengan jalan tersebut, dia sudah melibatkan Sang Maha secara langsung. Kemampuan otak dan akal kita begitu terbatas, bagaimana mungkin kita tidak butuh kehadiran Kekuasaan-Nya ?
Hamba berjalan sendirian, baik di awal langkah meniti sukses, maupun ketika menikmati kesuksesan. Akhirnya hamba jadi susah sendiri. Sebab hamba masih manusia, dan manusia tempatnya segala kekurangan dan keterbatasan.
Duhai Yang Maha Mengingatkan, ingatkan diri hamba bahwa Engkau masih di ‘arsy sana, dan selamanya akan berada disana.

MENJAGA IMAN DENGAN ILMU

Dan, agar orang orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Alqur’an itulah yang benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk.” (QS. Al Hajj <22>:54).

Pagi itu ,Rasulullah bergegas menuju keramaian.Setelah sampai, menceritakan kejadian luar biasa yang dialami tadi malam. Beliau bercerita,”Tadi malam, jibril datang padaku. Ia mengajakku pergi kesuatu tempat.Didatangkan untukku seekor binatang yang berbentuk lebih besar dari keledai, langkahnya sejauh pandangan matanya.Aku menungganginya disertai dengan jibril.”
“Sejenak setelah kami dibawa terbang oleh Buraq, aku disuruh Jibril turun untuk melakukan shalat. Lalu berkatalah beliau padaku,”Tahukah engkau bahwa engkau shalat di Thaibah (Madinah) dan disitulah engkau kelah berhijrah.” Kemudian perjalanan dilanjutkan, disuatu tempat Jibril menyuruhku turun untuk shalat.’Inilah Thuur Sina,tempat Musa bercakap cakap langsung dengan Tuhannya,’kata Jibril kepadaku”.
“Untuk ketiga kalinya sebelum kami sampai ketempat tujuan, Jibril menyuruhku turun lagi dan melakukan shalat. Setelah selesai shalat berkatalah beliau padaku,”Tahukah dimana engkau shalat kali ini?” Engkau shalat di Baitlehem, tempat Isa putra Maryam dilahirkan”.Kemudian masuklah aku ke Baitul Maqdis dimana telah berkumpul nabi nabi dan bersama kami melakukan shalat berjamaah.Oleh Jibril aku dikedepankan untuk menjadi imam.Setelah itu kami menuju langit yang paling tinggi,”ungkapnya.
Demi mendengar cerita itu, ramailah orang orang yang dari tadi berkumpul.”Kamu bohong Muhammad,bagaimana mungkin kamu pergi ke Baitul Maqdis,kemudian kelangit hanya dalam semalam,”teriak seorang musyrik.”Lihatlah wahai para pengkhianat Latta dan ‘Uzza, orang yang menurut Nabi,ternyata hanya seorang pembual,”teriak yang lain.
“Ya Rasulullah, benarkah apa yang engkau ceritakan itu?”Tanya salah seorang sahabat.”Benar,”jawab Rasul mantab.”Tapi,apakah mungkin?” ujar sahabat tadi dalam hatinya.
Seseorang pergi menemui Abu Bakar menanyakan pendapatnya tentang cerita Rasulullah. Dengan mantap Abu Bakar menjawab,”Aku mempercayainya tentang hal hal yang lebih aneh dari itu, aku mempercayainya tentang kabar kabar langit yang dibawanya (Rasulullah) di waktu pagi maupun senja.”
Kisah ini menunjukkan respon orang Mekkah terhadap peristiwa Isra Mi’raj. Menurut nalar, tidak mungkin perjalanan dari Makkah ke Yerussalem yang begitu jauh, hanya dalam semalam.Apalagi setelah itu,pergi ke langit yang tertinggi,sangat sulit dipahami.Ada tiga respon kaum mukminin terhadap peristiwa ini, yaitu tetap beriman, ragu ragu dan kembali kafir. Abu Bakar adalah salah seorang yang tetap beriman.Tanpa ragu sedikitpun ia membenarkan peristiwa tersebut.Kesaksian inilah yang membuat Abu Bakar dijuluki Ash shiddiq (orang yang benar).

Iman itu diuji
Keimanan pasti diuji.Difirmankan,Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan,”Kami telah beriman,”sedang mereka tidak diuji lagi?Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang orang sebelum mereka,maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang orang yang dusta (QS Al ‘Ankabuut <29>: 2-3).
Ujian ini dimaksudkan untuk mengetahui siapa saja orang yang benar benar beriman dan yang berbohong.Ujian juga berfungsi sebagai tes kenaikan iman.Apabila mampu melewati ujian itu,dapat dipastikan imn kita bertambah.Sebaliknya,apabila tidak mampu, maka keimanan berkurang bahkn hilang sama sekali.Seperti yang ditunjukkan sebagian sahabat setelah mendengar kisah Isra Mi’raj.Sebagian mereka ada yang ragu ragu,bahkan kembali pada kekafiran.
Semua peristiwa dalam kehidupan adalah ujian keimanan.Rezeki yang mudah didapatkan,atau yang sulit didapat.Doa yang terkabul atau yang tidak terkabul.Harta yang banyak atau sedikit.Anak yang saleh atau salah.Longsor,gempa,banjir,dan lain lain.Semuanya adalah ujian.Penyikapan terhadap ujian menentukan termanfaatkan atau tidak ujian untuk kenaikan iman.Sikap Abu Bakar patut diteladani.Ia mamou melewati ujian Isra’ Mi’raj dan memanfaatkannya untuk menambah keimanan.Apa yang membuatnya tetap beriman?
Ilmu Menjaga Keimanan
Dibanding sahabat lain,Abu Bakar lebih dekatdengan Rasulullah SAW.Abu Bakar telah mengenalnya sejak muda.Ia tahu sahabatnya tidak pernah dusta.Ia selalu jujur dan amanah.Orang orang Quraisy menjuluki sahabatnya,Al Amin (yang terpercaya).Sehingga,ketika Rasulullah menceritakan Isra Mi’raj,dengan mantap ia percaya.Bahkan ia akan percaya,kalau Rasulullah menceritakan yang lebih aneh dari itu.
Kunci keterjagaan iman Abu Bakar terletak pada pengenalannya yang dalam terhadap Rasulullah.Sahabat yang lain yang ragu – ragu atau murtad tidak terlalu mengenal Rasulullah.Semakin dalam pengenalan,semakin kuat keimanannya.Sebaliknya,semakin lemah pengenalan,semakin lemah pula keimanannya.Denagan kata lain ilmu atau pengetahuan terhadap sesuatu akan menjaga atau menambah kepercayaan terhadap sesuatu itu.
Karena, itu ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam islam.Banyak ayat Al quran yang mendorong orang beriman untuk berilmu.Bahkan, dalam salah satu ayat,Allah menjelaskan bahwa ilmu mendahului iman.Artinya,seseorang akan beriman,manakala ia berilmu terlebih dahulu.Firman-Nya,Dan,agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al quran itulah yang benar dari Tuhanmu,lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk”(QS Al Hajj <22>:54)
Ayat ini menunjukkan urutan,dimulai dengan berilmu,lalu beriman dan kemudian hatinya tunduk.Ilmu akan menghasilkan keimanan dan keimanan akan menhasilkan ketundukan dan kekhusyukan,yang satu mempengaruhi yang lain.Demikian penjelasan Yusuf Al Qaradhawi.
Ilmu apa saja yang dapat menghasilkan,menjaga dan menambah keimanan.Sa’id Hawwa menjelaskan ada tiga ilmu yang harus dimiliki orang beriman,yaitu ilmu mengenal Allah,ilmu mengenal Rasulullah SAW dan ilmu mengenal islam.Tiga ilmu ini yang disebut ilmu asasi(ilmu pokok).Diharapkan orang yang memiliki ketiga ilmu tadi dapat memelihara dan meningkatkan keimanannya.Wallaahu a’lam.